Suara Sumut: Fenomena Pengemis Digital di Medan yang Meresahkan Pengguna Jalan

Kota Medan, sebagai metropolitan terbesar di luar Pulau Jawa, selalu memiliki dinamika sosial yang kompleks. Namun, dalam setahun terakhir, wajah kemiskinan di kota ini mengalami pergeseran bentuk yang cukup mengejutkan. Jika dahulu kita terbiasa melihat orang meminta-minta dengan menadahkan tangan secara fisik, kini muncul fenomena Pengemis Digital yang memanfaatkan kecanggihan teknologi dan platform media sosial untuk mengeksploitasi rasa iba publik. Fenomena ini tidak hanya terjadi di ruang siber, tetapi dampaknya mulai merambah ke dunia nyata, di mana aktivitas produksi konten mengemis tersebut seringkali mengganggu ketertiban umum dan kenyamanan para pengguna jalan di titik-titik strategis kota Medan.

Secara definisi, Pengemis Digital merujuk pada individu atau kelompok yang melakukan siaran langsung (live streaming) atau mengunggah konten dengan narasi penderitaan demi mendapatkan hadiah virtual atau donasi dari penonton. Di Medan, pemandangan ini mulai terlihat di sudut-sudut kota, di mana oknum tertentu menggunakan telepon genggam mereka untuk mengeksploitasi diri sendiri, anak-anak, bahkan lansia di tempat umum demi konten yang mengundang simpati. Hal ini menjadi meresahkan karena lokasi yang dipilih seringkali berada di trotoar, jembatan penyeberangan, atau dekat lampu merah, yang secara langsung bersinggungan dengan arus mobilitas warga dan pengguna jalan yang sedang beraktivitas.

Masalah utama dari maraknya Pengemis Digital ini adalah adanya unsur eksploitasi dan manipulasi emosi. Banyak penonton yang memberikan “gift” atau saweran daring tidak menyadari bahwa di balik layar, ada skenario yang diatur sedemikian rupa untuk menciptakan kesan dramatis. Di Medan, beberapa laporan masyarakat menunjukkan bahwa kegiatan ini terkadang dikoordinir oleh oknum tertentu yang mengambil keuntungan dari hasil jerih payah mereka yang dieksploitasi di depan kamera. Praktik ini bukan hanya merusak tatanan sosial, tetapi juga menciptakan mentalitas instan di mana kemiskinan dijadikan komoditas jualan daripada sesuatu yang harus diatasi dengan pemberdayaan nyata.

Respon masyarakat Medan terhadap fenomena ini sangat beragam. Sebagian merasa kasihan, namun sebagian besar lainnya mulai merasa terganggu dan kritis. Netizen Sumatera Utara mulai vokal menyuarakan agar pemerintah kota segera mengambil tindakan tegas. Kehadiran Pengemis Digital di ruang publik seringkali menciptakan kerumunan yang tidak perlu atau menghambat pejalan kaki yang ingin menggunakan fasilitas umum. Selain itu, ada kekhawatiran mengenai keamanan data dan privasi, mengingat aktivitas perekaman dilakukan di tempat terbuka di mana orang yang lewat tanpa sengaja bisa masuk ke dalam frame konten yang sifatnya eksploitatif tersebut.