Setelah fase hati, merozoit dilepaskan ke aliran darah, menandai dimulainya stadium Sel Darah Merah (eritrositik). Merozoit harus dengan cepat menyerang eritrosit karena mereka tidak dapat bertahan lama di sirkulasi darah. Invasi yang agresif dan berulang ini adalah penyebab utama gejala klinis malaria pada inang manusia.
Invasi dan Transformasi Menjadi Trofozoit
Merozoit menggunakan kompleks apikal untuk menembus membran Sel Darah Merah. Setelah berada di dalam, merozoit berubah bentuk menjadi trofozoit. Trofozoit ini memakan hemoglobin, protein pembawa oksigen utama dalam eritrosit. Proses pemakanan ini menghasilkan pigmen malaria yang khas, yaitu hemozoin.
Replikasi Aseksual (Skizogoni Eritrositik)
Trofozoit kemudian berkembang menjadi skizon, yang berisi banyak inti. Ini adalah proses reproduksi aseksual yang dikenal sebagai skizogoni eritrositik. Selama tahap ini, parasit Plasmodium bereplikasi secara masif dan agresif di dalam Sel Darah Merah. Skizogoni ini menentukan durasi demam yang berulang.
Pelepasan Merozoit Baru
Setelah matang, skizon pecah, melepaskan gelombang baru merozoit ke dalam aliran darah. Pelepasan serentak ini memicu respons imun yang kuat, menghasilkan demam tinggi dan menggigil yang menjadi ciri khas malaria. Setiap pelepasan memulai siklus proliferasi agresif baru yang merusak lebih banyak eritrosit.
Dampak Pada Anemia dan Hipoksia
Kerusakan massal Sel Darah Merah akibat proliferasi agresif ini menyebabkan anemia berat, terutama pada infeksi P. falciparum. Anemia mengurangi kapasitas darah untuk membawa oksigen (hipoksia), yang dapat menyebabkan komplikasi parah pada organ vital. Tingkat kerusakan eritrosit menentukan tingkat keparahan penyakit.
Spesies dan Durasi Siklus
Durasi siklus eritrositik bervariasi antarspesies: P. vivax dan P. ovale memiliki siklus 48 jam (demam tersiana), sedangkan P. malariae memiliki siklus 72 jam (demam kuartana). Pengetahuan tentang durasi siklus ini sangat penting untuk diagnosis mikroskopis dan penyesuaian pengobatan.
Perbedaan Morfologi dalam Eritrosit
Morfologi parasit di dalam Sel Darah Merah adalah kunci identifikasi spesies. Misalnya, P. falciparum membentuk cincin ganda dan tampak seperti “mahkota”, sedangkan P. vivax memperbesar ukuran eritrosit yang diinfeksinya. Perbedaan ini digunakan oleh ahli mikroskopi untuk diagnosis.
Pembentukan Gametosit untuk Transmisi
Di tahap akhir stadium Sel Darah Merah, beberapa parasit berdiferensiasi menjadi gametosit, bentuk seksual yang diambil oleh nyamuk saat menggigit. Meskipun tidak menyebabkan gejala, gametosit sangat penting untuk transmisi malaria ke vektor. Menghentikan proliferasi agresif ini adalah target pengobatan utama.