Dalam dunia musik, terutama bagi para penyanyi, memahami akar musik adalah kunci utama untuk mengembangkan vokal yang lebih dalam dan penuh ekspresi. Tak ada genre yang lebih esensial untuk dipelajari selain blues dan jazz. Keduanya bukan hanya sekadar genre, melainkan fondasi yang membentuk hampir seluruh musik populer modern. Pada 29 Februari 2024, dalam sebuah seminar vokal yang diadakan di Balai Sidang Cenderawasih, Jakarta, seorang instruktur vokal senior, Budi Santoso, menekankan pentingnya studi mendalam terhadap kedua genre ini. Ia menyatakan, “Seorang vokalis yang hanya fokus pada teknik tanpa memahami emosi dan sejarah di balik musik, seperti seorang penulis yang hanya tahu tata bahasa tapi tak memiliki cerita untuk diceritakan.”
Blues, dengan segala kesederhanaan dan kedalamannya, adalah cetak biru untuk ekspresi musikal yang jujur. Lahir dari penderitaan dan perjuangan masyarakat Afrika-Amerika di pedalaman Amerika Serikat pada akhir abad ke-19, blues adalah bentuk seni yang otentik. Liriknya sering kali berkisah tentang kesusahan, cinta yang hilang, dan kehidupan sehari-hari, dinyanyikan dengan melodi yang melankolis dan penuh improvisasi. Untuk seorang vokalis, belajar blues berarti belajar bagaimana mengungkapkan emosi dengan jujur melalui suara. Penting untuk memahami konsep phrasing dinamis, di mana penekanan, volume, dan tempo dapat diubah secara spontan untuk menyampaikan perasaan yang lebih kuat. Sebagai contoh, seorang penyanyi blues tidak hanya menyanyikan nada, tetapi juga “merasakan” setiap suku kata, memanjangkan atau memendekkan not sesuai dengan emosi yang ingin disampaikan.
Transisi dari blues ke jazz merupakan evolusi yang memperkaya, seperti yang dijelaskan oleh Budi Santoso. Jazz mengambil elemen-elemen blues—struktur akord, melodi, dan improvisasi—lalu menggabungkannya dengan harmoni yang lebih kompleks dan ritme yang lebih sinkopasi. Pada 14 Maret 2024, dalam sesi lokakarya di Akademi Musik Sinergi, Budi Santoso menambahkan bahwa jazz adalah “blues yang telah pergi ke perguruan tinggi.” Genre ini menuntut pemahaman mendalam tentang teori musik dan kebebasan untuk berimprovisasi. Vokalis jazz, seperti Ella Fitzgerald atau Sarah Vaughan, adalah master dalam phrasing dinamis, sering kali mengubah melodi orisinal lagu dan menciptakan interpretasi baru secara spontan. Mereka menggunakan teknik scat singing, di mana vokal digunakan sebagai instrumen, mengikuti alur melodi improvisasi.
Vokalis yang ingin mendalami teknik ini harus mulai dengan mendengarkan secara aktif. Dengarkanlah rekaman-rekaman dari para maestro blues seperti B.B. King, Etta James, atau Muddy Waters untuk merasakan otentisitas dan kepekaan mereka dalam bernyanyi. Kemudian, beralihlah ke jazz dengan mendengarkan Louis Armstrong, Billie Holiday, atau Nina Simone. Perhatikan bagaimana mereka menggunakan jeda, nada, dan volume untuk menciptakan nuansa yang berbeda. Belajar blues dan jazz juga melatih kepekaan musikal secara keseluruhan, termasuk interaksi dengan band. Seorang penyanyi yang memahami kedua genre ini akan lebih mudah “berdialog” dengan musisi lain, merespons perubahan akord atau irama secara instan.
Dengan mengaplikasikan pemahaman tentang blues dan jazz, seorang vokalis dapat melampaui sekadar teknik dan mulai benar-benar “bercerita” melalui musik. Proses ini, seperti kata Budi Santoso, adalah perjalanan seumur hidup. Pada 24 Maret 2024, saat memberikan keterangan kepada pihak kepolisian terkait laporan pencurian alat musik di studio rekaman, Budi Santoso kembali menekankan betapa berharganya setiap instrumen dan rekaman yang merekam sejarah musik ini. Bagi para vokalis, rekaman-rekaman tersebut adalah harta karun yang tak ternilai, berisi pelajaran yang tak pernah usang tentang bagaimana menyanyi dengan jiwa, bukan hanya dengan tenggorokan. Inilah esensi phrasing dinamis dan mengapa memahami akar musik begitu penting.