Korban Bertahan Hidup Makan Durian: Suara Warga Tapteng yang Terisolir Pasca-Longsor

Tragedi tanah longsor di Tapanuli Tengah (Tapteng) telah meninggalkan kisah pilu. Sejumlah korban bertahan hidup dalam kondisi terisolir akibat akses jalan yang tertutup total. Dalam situasi darurat ini, Suara Warga Tapteng mengungkap fakta unik dan menyentuh: mereka harus makan durian untuk bertahan hidup selama beberapa hari.

Tapteng yang terisolir pasca-longsor menghadapi krisis logistik yang serius. Bantuan belum bisa masuk, dan bahan makanan cepat habis. Untungnya, di daerah tersebut sedang musim durian. Buah dengan aroma menyengat ini, yang melimpah di kebun warga, menjadi satu-satunya sumber energi dan nutrisi yang tersedia bagi mereka.

Korban yang terperangkap menunjukkan ketangguhan luar biasa dalam menghadapi situasi sulit ini. Mereka memanfaatkan ketersediaan alam di sekitar mereka. Namun, hal ini juga menunjukkan betapa rentannya wilayah tersebut terhadap bencana dan betapa lambatnya bantuan dapat menjangkau mereka yang paling membutuhkan pertolongan.

Suara warga yang terisolir ini adalah cerminan dari kegagalan sistem tanggap darurat dalam merespons bencana di wilayah terpencil. Upaya pembukaan akses jalan, baik melalui darat maupun udara, harus dipercepat. Setiap jam keterlambatan berarti risiko yang lebih besar bagi kesehatan para penyintas.

Meskipun makan durian membantu mereka bertahan, ini bukanlah solusi jangka panjang. Durian tidak mengandung semua nutrisi yang dibutuhkan. Tim medis harus segera menjangkau lokasi untuk memeriksa kondisi kesehatan warga, terutama anak-anak dan lansia, yang membutuhkan asupan gizi yang seimbang.

Pemerintah daerah harus segera memprioritaskan penggunaan alat berat untuk membersihkan material longsor yang menutup akses utama. Koordinasi dengan TNI/Polri dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) untuk pengiriman bantuan melalui helikopter juga harus diintensifkan di wilayah Tapteng.

Kisah ini menjadi pengingat pahit akan perlunya buffer stock logistik di desa-desa yang rawan terisolir. Setiap desa harus memiliki lumbung pangan darurat yang dapat diakses warga ketika bencana terjadi dan jalur transportasi terputus. Hal ini adalah bentuk mitigasi berbasis komunitas.

Warga Tapteng membutuhkan lebih dari sekadar makanan. Mereka membutuhkan dukungan psikososial dan jaminan bahwa mereka tidak sendirian. Kisah mereka yang bertahan hidup dengan durian adalah bukti daya juang, tetapi juga alarm bagi pemerintah.

Singkatnya, korban longsor Tapteng memerlukan perhatian segera. Sambil membuka akses, logistik darurat harus segera disalurkan melalui cara apapun yang memungkinkan.