Kota Medan terus bersolek dengan pembangunan infrastruktur yang masif, mulai dari gedung pencakar langit hingga jalan layang yang membelah kemacetan kota. Namun, di balik kemegahan ibu kota Sumatera Utara ini, tersimpan realitas sosial yang kontras dan memilukan. Di bawah struktur beton yang kokoh, terdapat kehidupan yang terhimpit oleh kemiskinan dan keterbatasan akses. Para Penghuni Kolong Jembatan di Medan adalah potret dari masyarakat yang terpinggirkan oleh roda modernisasi. Mereka hidup di antara debu jalanan dan kebisingan kendaraan, mencoba bertahan hidup di ruang-ruang sempit yang sebenarnya tidak layak untuk dihuni oleh manusia. Bagi mereka, kemegahan kota hanyalah latar belakang dari perjuangan harian yang melelahkan.
Di tengah lingkungan yang keras dan tidak sehat tersebut, tumbuh anak-anak yang memiliki semangat luar biasa untuk mengubah nasib. Banyak dari anak-anak ini yang setiap harinya melihat teman sebaya mereka berangkat dengan seragam rapi, sementara mereka harus membantu orang tua memulung atau menjajakan koran. Anak-anak yang tinggal di Medan ini seringkali memiliki keinginan sederhana namun sulit digapai: yaitu bisa duduk di bangku kelas dan belajar seperti anak-anak lainnya. Mereka memiliki mimpi untuk sekolah yang setinggi langit, namun realitas ekonomi keluarga seringkali menjadi tembok besar yang menghalangi langkah mereka. Pendidikan bagi mereka bukan sekadar soal buku dan pensil, melainkan tiket emas untuk keluar dari jerat kemiskinan yang telah membelenggu keluarga mereka selama lintas generasi.
Permasalahan utama yang dihadapi oleh keluarga di kolong jembatan adalah ketiadaan dokumen kependudukan yang sah. Tanpa kartu keluarga atau akta kelahiran yang jelas, anak-anak ini sulit untuk mendaftar di sekolah negeri yang mensyaratkan administrasi lengkap. Hal inilah yang membuat mereka tetap terjebak dalam lingkaran ketidaktahuan meskipun semangat mereka untuk belajar sangat besar. Cerita perjuangan seorang anak Penghuni Kolong Jembatan jembatan seringkali dimulai dengan belajar membaca secara otodidak melalui sobekan koran bekas yang ditemukan di tempat sampah. Mereka adalah pejuang-pejuang kecil yang tidak menyerah pada keadaan, meskipun dunia seolah-olah tidak memberikan tempat bagi mereka untuk tumbuh secara wajar.
Intervensi dari berbagai komunitas relawan dan sekolah marjinal memang memberikan sedikit titik terang, namun jangkauannya masih sangat terbatas. Pemerintah kota perlu melihat bahwa pertumbuhan ekonomi yang tinggi tidak akan berarti banyak jika masih ada warganya yang terpaksa bermukim di tempat yang tidak manusiawi. Keinginan untuk Bermimpi Sekolah seharusnya tidak menjadi beban bagi seorang anak, melainkan hak yang dijamin oleh negara. Diperlukan kebijakan afirmatif yang memudahkan akses pendidikan bagi kelompok marjinal ini tanpa terhambat oleh urusan birokrasi yang rumit. Menyediakan rumah singgah dan sekolah terbuka di sekitar area kumuh bisa menjadi solusi jangka pendek yang sangat menolong masa depan mereka.