Perkembangan teknologi informasi yang begitu pesat telah membawa masyarakat global ke ambang revolusi digital baru, yakni era kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI). Di satu sisi, teknologi ini menawarkan kemudahan yang luar biasa, namun di sisi lain, ia menyimpan risiko yang belum pernah dibayangkan sebelumnya, terutama bagi kelompok yang paling rentan: anak-anak. Di Sumatera Utara, keresahan orang tua mengenai dampak paparan dunia digital semakin meningkat. Kampanye Aman Berinternet kini bukan lagi sekadar anjuran, melainkan sebuah kebutuhan mendesak bagi setiap keluarga untuk memastikan masa depan generasi muda tetap terjaga dari sisi gelap teknologi.
Laporan khusus dari Suara Sumut mencoba membedah bagaimana teknologi kecerdasan buatan dapat mempengaruhi pola pikir dan perilaku anak. Saat ini, AI tidak hanya digunakan untuk membantu pekerjaan kantor, tetapi juga telah masuk ke dalam ranah hiburan anak-anak melalui algoritma rekomendasi video, pembuatan filter wajah, hingga munculnya video deepfake yang sulit dibedakan dengan kenyataan. Masalah muncul ketika anak-anak yang belum memiliki kemampuan filter informasi yang kuat terpapar pada Konten AI yang bersifat manipulatif, tidak pantas, atau bahkan berbahaya bagi kesehatan mental mereka.
Upaya untuk Lindungi Anak dari pengaruh buruk internet membutuhkan kolaborasi antara orang tua, pendidik, dan penyedia layanan teknologi. Suara Sumut menemukan bahwa banyak orang tua di Medan dan sekitarnya masih gagap dalam menghadapi perubahan tren teknologi ini. Banyak yang mengira bahwa hanya dengan mengaktifkan fitur “Safe Search”, anak-anak mereka sudah sepenuhnya aman. Padahal, konten yang dihasilkan oleh AI generatif bisa muncul di platform mana saja dengan narasi yang terlihat sangat meyakinkan namun mengandung informasi yang salah atau bias.
Salah satu panduan yang diberikan dalam ulasan Aman Berinternet ini adalah pentingnya literasi digital sejak dini. Orang tua harus berperan sebagai pendamping, bukan sekadar pengawas. Hal ini melibatkan komunikasi dua arah mengenai apa yang anak lihat di layar gawai mereka. Ketika anak berinteraksi dengan Konten AI, seperti chatbot atau video animasi otomatis, mereka perlu diberikan pemahaman bahwa apa yang mereka lihat adalah hasil dari mesin, bukan representasi mutlak dari realitas manusia. Tanpa pemahaman ini, anak-anak berisiko kehilangan kemampuan empati sosial karena terlalu sering berinteraksi dengan entitas non-manusia.